Syaikhona Kholil Bangkalan Madura
| Foto Syaikhona Kholil bangkalan (sumber: Wikipedia) |
Siapa yang tidak kenal dengan Syaikhona Muhammad Kholil, ulama tersohor dari Bangkalan, Madura yang tidak hanya populer (popular) dalam keluasan ilmunya, tetapi juga kepiawaiannya dalam mengolah ilmu untuk disampaikan menjadi sesuatu yang menarik, bahkan layaknya bahan canda yang bisa didapatkan oleh semua orang. Beliau juga menjadi sosok paling berpengaruh di balik berdirinya organisasi terbesar di dunia, Nahdlatul Ulama. Atas restunya, Hadlratussyekh KH Hasyim Asy’ari dan para kiai lainnya dari pulau jawa sukses mendirikan jam’iyah tersebut.
Syaikhona Kholil adalah ulama yang memiliki banyak karamah (kejadian di luar rasio manusia yang hanya terjadi pada orang-orang yang menjadi pilihan Allah). Bahkan dalam beberapa catatan, ia sudah mencapai derajat mukasyafah, terbukanya tirai-tirai ilahi yang diberikan kepada orang-orang pilihan, sejak masa kanak-kanak sebelum baligh.
Selain itu, banyak orang belum mengetahui, Syaikhona Kholil merupakan ulama yang sangat produktif menulis kitab. Tim Lajnah Turots Ilmi Syaikhona Kholil telah menemukan puluhan manuskrip kuno dari karya-karyanya. Sementara banyak lagi manuskrip-manuskrip beliau yang belum ditemukan.
Tahun Kelahiran dan Kewafatan Syaikhona Kholil
Membahas perihal tahun lahir dan wafatnya, para penulis sejarah Syaikhona Kholil memiliki pendapat beragam. Setidaknya ada lima buku yang dengan penjelasan berbeda tentang kelahiran dan kewafatannya yang telah terpublikasi dan menjadi konsumsi publik, khususnya di Bangkalan, Madura.
Pertama, menurut Saifur Rachman dalam buku “Biografi dan Karomah Kiai Kholil Bangkalan, Surat Kepada Anjing Hitam”, Syaikhona Muhammad Kholil dilahirkan di Bangkalan pada hari Ahad Pahing, 11 Jumadil Akhir 1235 H, bertepatan dengan 14 Maret 1820 M.
Kedua, Muhammad Syaiful Bakhri dalam buku “Syaikhona Kholil Bangkalan, Ulama Legendaris dari Madura” menuliskan bahwa Syaikhona Muhammad Kholil dilahirkan di Bangkalan pada hari Selasa, 11 Jumadits Tsaniyah 1235 H.
Ketiga, buku berjudul “KH Muhammad Kholil Bangkalan: Biografi Singkat 1820-1923” karya Muhammad Rifai (2010: 21) menjelaskan, Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan lahir pada hari Selasa, tanggal 11 Jumadil Akhir 1225 H, bertepatan dengan tahun 1835 M.
Keempat, Abdul Rozaki dalam karyanya yang berjudul “Asketisme Transformatif Kiai Kholil Bangkalan” menyebut angka 1819-1925 sebagai tahun kelahiran dan wafatnya Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan.
Kelima, KH Mahfudz Hadi, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hidayah, Jangkebuan, Bangkalan, dalam bukunya yang berjudul “Berjuang di Tengah Gelombang, Biografi dan Perjuangan Syaikhona Muhammad Kholil bin KH Abdul Latif, Bangkalan, Madura”. Ia menyebutkan bahwa Syaikhona Kholil dilahirkan di Desa Langgundih (sekarang: Desa Kramat), Ujung Piring, Bangkalan, pada pukul 10.00 WIB, hari Selasa, tanggal 11 Jumadil Akhir 1252 H (20 September 1834 M).
Dari lima tulisan di atas, versi kelima merupakan keterangan yang paling akurat dan valid, bahwa Syaikhona Muhammad Kholil lahir pada tahun 1252 H. Hal ini dapat dibuktikan dengan beberapa manuskrip.
Baca: Sisi Lain Keilmuan Syaikhona Kholil Bangkalan
Referensi Data Kelahiran Syaikhona
Kholil
Pertama, dalam salah satu manuskrip kitab Alfiyah Syaikhona Muhammad Kholil yang ditemukan di Mlonggo Jepara, beliau menulis:
١٢٥٢ تَارِيْخُ وِلَادَةِ الْكَاتِبِ عَفَا اللهُ عَنْهُ آمين
Artinya, “1252 Tahun lahirnya penulis ini. Semoga Allah memberi ampunan kepada-nya. Amin.”
Di halaman lain, pada manuskrip yang sama, Syaikhona Kholil juga menulis tahun kelahiran beliau dengan abjad latin:
تَارِيْخُ وِلَادَةِ الْكَاتِبِ
غَفَرَ الله ذُنُوْبَهُ وَسَتَرَ عُيُوْبَهُ 1252
Artinya, “Kalender kelahiran penulis, semoga Allah mengampuni dosa-dosanya, dan menutupi aib-aibnya, adalah 1252.”
Pada manuskrip di atas, yang dimaksud “al-Katib/penulis” tersebut tidak lain
adalah Syaikhona Kholil sendiri. Manuskrip ini sampai sekarang ada di dzurriyah
Kiai Nawawi Mlonggo Jepara, salah satu santri beliau.
Kedua, dalam manuskrip yang ditulis oleh Sayyid Salim bin Jindan, salah seorang
santri Syaikhona Kholil Bangkalan,dijelaskan:
مُحَمَدْ خَلِيلْ بِنْ عَبْدُ اللَّطِيفْ
البَنْكَلَانِي وُلِدَ بِسَنَةِ ١٢٥٢ بِبَنْدَرِ بَنْكَلَانْ مَدُوْرَا
Artinya, “Tempat lahir dan tumbuhnya, (beliau) dilahirkan malam Kamis 9 Shofar
tahun 1252 (غرنب) di kota Bangkalan daerah pulau Madura.”
Kata غرنب merupakan kata lain dari angka 1252. Penomoran ini disebut hisabul
jumal (sistem bilangan abjad) yaitu sistem angka atau penomoran yang
menggunakan ke-28 abjad Arab untuk melambangkan nilai-nilai numerik.
Keempat, adalah manuskrip Kiai Ahmad Qusyairi bin Shiddiq yang juga merupakan
santri Syaikhona Muhammad Kholil asal Pasuruan. Yaitu dalam manuskrip kitab
as-Silâh fî Bayânin Nikâh karya Syaikhona Muhammad Kholil yang ditahqiq oleh
Kiai Qusyairi. Beliau menulis:
هَذَا
كِتَابُ السِّلاَحِ فِي بَيَانِ النِّكَاحِ تَأْلِيْفُ مَنْ هُوَ فِي عِلْمِ
النَّحْوِ نَحْوَ سِبَوَيْهِ وَفِي الْفِقْهِ مِثْلُ الْإِمَامِ النَّوَاوِي وَفِي
الْوِلَايَةِ وَالْكَشْفِ وَالْكَرَامَاتِ مِثْلُ الْقُطْبِ الجَيْلَانِي بَلْ
وَفِي سِنِّهِ أَيْضًا فَإِنَّهُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَعَنْهُمْ وُلِدَ فِي
نَرْغَبْ وَمَاتَ فِي كَمَالْ
Artinya, “Ini adalah kitab as-Silâh fî Bayânin Nikâh, karangannya seorang yang
dalam ilmu nahwu layaknya Imam Sibawaih, dalam fiqh bagaikan Imam Nawawi dan
dalam kewalian, kasyf dan karamah layaknya wali qutub al-Jailani, bahkan pula
usianya. Sesungguhnya beliau dilahirkan di نرغب dan wafat di Kamal (Bangkalan).” (Muqaddimah kitab As-Silah fi Bayanin
Nikah, halaman 2).
Baca: Syaikhona Kholil Penentu Berdirinya NU
Sebagaimana masyhur dalam hisabul Jumal, kata نرغب yang ada pada tulisan di atas, jika diakumulasi akan menjadi angka
1252, dengan perincian, Nun = 50, Ra’ = 200, Ghain = 1000 dan Ba’ = 2. Kalau ditambahkan totalnya
menjadi 1252.
Dari beberapa manuskrip dan catatan di atas, rujukan primer dalam data
kelahiran Syaikhona Muhammad Kholil, menuliskan angka yang sepadan, yaitu 1252
H. Tepatnya pada (Rabu) malam Kamis tanggal 9 Shofar. Kalau dikonversi menjadi
hitungan Masehi, maka bertepatan dengan Rabu, 25 Mei 1835 M. Dengan demikian,
Syaikhona Muhammad Kholil wafat pada Kamis, 29 Ramadhan 1343 H. atau bertepatan
dengan 23 April 1925 M.
Baca: Suluk Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan
Karamah Syaikhona Kholil
Membahas tentang karamahnya, ulama satu ini sudah
tidak diragukan lagi, orang-orang Nusantara, khususnya Madura, semuanya
mengakui bahwa beliau memiliki banyak karamah yang tidak dimiliki oleh ulama
yang lain pada masanya.
Kiai Aziz Masyhuri dalam bukunya yang berjudul, “99 Kiai Kharismatik Indonesia,
Riwayat, Perjuangan, Doa dan Hizib” menceritakan salah satu karamah yang
dimiliki oleh Syaikhona Muhammad Kholil sebelum beliau menginjak dewasa, bahkan
masih terbilang anak-anak.
Dalam buku itu diceritakan bahwa ketika Syaikhona Kholil masih bocah, ia
terkekeh-kekeh saat berlangsungnya shalat berjamaah. Tentu saja hal ini membuat
ramai orang-orang di sana. Selesai shalat, sang imam menegurnya karena tawanya
menganggu para jamaah bahkan imam itu sendiri.
Sambil meminta maaf, beliau menjawab, “Aku tidak bisa menahan geli, melihat di
kepala imam ada bungkusan nasi berkat ketika shalat tadi!”
Baca:
Syaikhona Kholil Gurunya Para Kiai
Imam tersipu malu, memang benar ia shalat terburu-buru karena hendak datang
memenuhi undangan warga. Tepat sekali niatnya memang untuk mendapatkan nasi
berkat dari acara tersebut. Rupanya Kholil kecil mendapatkan kelebihan dari Allah
untuk dapat melihat sesuatu yang tidak tampak dengan mata manusia biasa.
Demikian biografi Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan yang selama ini masih
banyak tidak diketahui masyarakat luas dan karamahnya yang bisa melihat
ketidakkhusyukan imam shalat. Suatu karamah luar biasa yang tidak dimiliki
orang lain pada masanya. Karamah-karamah lainnya, insyaallah penulis kupas pada
tulisan selanjutnya.
Ustadz Sunnatullah, Pengajar di Pondok Pesantren
Al-Hikmah Darussalam Bangkalan.
Sumber: https://islam.nu.or.id/tasawuf-akhlak/syaikhona-kholil-bangkalan-dan-makrifatnya-sebelum-baligh-qV5N9